“Dan semua itu adalah kebodohan…”
Di masa lalu aku berurusan dengan virus. Virus-virus asing dengan mudah terdeteksi antivirus bagus yang up to date – sayangnya waktu itu antivirus kami tak pernah up tu date. Dan virus lokal yang bodoh dengan mudah diatasi secara manual, dengan mematikan sumber daya virus tersebut dan membersihkan bangkai-bangkainya yang kelihatan jelas.
Suatu ketika kebodohan itu kutulis, dan aku mendapatkan 3 buku tebal plus uang 200 ribu dari beritanet.com feat Andi Offset. Kali lain aku menulis risalah yang lebih panjang di blog ini, sesuatu yang berbunyi “Membuat Sistem Komputasi yang Aman dari Virus tanpa Gangguan Antivirus”. Kalau beruntung mungkin kamu akan menemukan kopinya di blog orang lain juga. Sekarang adalah zaman dimana originalitas dipertanyakan. Sadari itu. Kalau ingin bertahan kamu harus terus menghidupkan sumber energi yang tak pernah kering. Dan selalu baru.
Dan sekarang aku menyadari, bahwa semua itu adalah kebodohan… Tapi aku membiarkan kebodohan-kebodohan tetap di tempatnya; juga berlipat gandanya kebodohan itu. Toh kebodohan adalah bagian dari hidupku. Bagian dari hidupmu juga kalau kau mau mengaku. Dan bangsa kita. Tak perlu banyak berpikir keras tentang pernyataanku itu karena sudah jelas.
Untungnya kesadaran akan adanya kebodohan dalam diri kita adalah syarat untuk menjadi lebih baik. Menjadi lebih bijaksana. Bayangkan Socrates (469 BC–399 BC) tidak pernah menyadari bahwa dirinya bodoh. Dia tidak akan bertanya kepada setiap orang yang ditemuinya di setiap tikungan jalan di Athena. Alkisah di akhir cerita, kata-katanya menguatkan kesadarannya semula, “Orang yang paling bijaksana adalah orang yang tahu bahwa dirinya tidak tahu”.
Karena tingkahnya itu, Socrates memang meminum racun cemara di tribun Athena, berdasarkan keputusan forum pengadilan Athena tentu saja. Tapi jauh sebelumnya dia telah mengobarkan api kegilaan akan ‘pengetahuan’ – atau lebih tepatnya ketidakbodohan.
Dan kobaran api kegilaan itu disimpan dan didokumentasikan oleh Plato (428/427 BC – 348/347 BC), muridnya yang setia. Plato pun membangun akademi Plato. Banyak anak muda yang tertarik rupanya. Aristoteles (384 BC – 322 BC) salah satunya. Socrates mempertanyakan hal-hal mendasar yang abstrak – kendati sesuatu yang abstrak itu tersimpan dalam kehidupan sehari-hari, Plato justru memaksa kita untuk selalu melihat bahwa ada sesuatu yang abstrak di dalam segala sesuatu yang real disekitar kita, tetapi Aristoteles, murid pembangkang tapi sangar (baca: awesome - pen), melihat hal-hal kecil di alam sekitar.
Itulah kisah ketiga orang besar yang menjadi dasar kebudayaan intelektual di dunia barat, yang kini telah mengglobal sampai ke pelosok bumi. Sungguh ini bukan interferensi kebudayaan, karena aku sendiri lahir dalam budaya Timur: Jawa – Jogja bagian Selatan, yang ketimurannya sangat kental. Tapi aku mau menyadari apa yang sedang terjadi di zaman ini. Ini jelas jauh lebih baik. Jika tidak kau akan tertelan zaman ini tanpa tahu apa yang terjadi. Punyamu sendiri lenyap, kepunyaan orang yang datang padamu tak bisa kau kuasai. Sungguh menyedihkan.
Satu hal yang menjadi sebab sekaligus pertanda pengglobalan kebudayaan Barat yang semakin ‘menggila’ adalah bangkitnya teknologi komputasi dan meluasnya jaringan internet. Kata-kata ‘menggila’ sengaja kuberi tanda kutip karena kata-kataku itu salah jika ‘menggila’ kau hilangkan. Pengglobalan kebudayaan Barat telah terjadi sejak zaman dahulu kala, ketika bangsa-bangsa Barat menyebarkan kekuasaannya.
Orang-orang Indonesia yang picik akan begitu saja membenci ‘para penjajah’ itu, tapi itu wajar saja karena gagasan ini tertanam dalam-dalam buku teks sejarah pada umumnya. Dan SMP-ku tidak, guru sejarahku yang hebat mendidik kami untuk melihat kedua sisi baik dan buruk, jika ingin belajar dari masa lalu.
Sekali lagi penekanan dariku, aku sama sekali tidak ingin melunturkan semangat nasionalisme kalian. Aku sendiri sangat cinta akan bangsaku, walau keadaan sesuram apapun. Tapi cinta bukanlah kebencian. Cinta tidak juga berarti memuja-muja dengan penuh kata-kata manis. Pada bagian kecilnya, Cinta bisa berarti menyadari segala sesuatu apa adanya seburuk apapun itu, menanggung apa yang sedang terjadi, dan siap melakukan yang terbaik untuk masa depan.
Kembali ke masalah yang kuangkat, bahwa IT sangat vital dalam proses pengglobalan dunia ini, aku yakin Anda telah terlibat dalam masalah ini. Masalah lagi, masalah lagi. Masalahkah ini???!! YA. Tentu saja ini masalah. Anda bertanggungjawab untuk menyelamatkan bangsa kita dari kesuraman yang ada.
“Loh, knape gue yang disalahkan, bang? Gue kan cuma iseng2 browsing, e nemu artikel cupu. Melaz kan kalo gak pernah diliatin”, demikian mungkin protes seseorang dg dialek Jakarte yang diketik secara cupu oleh seorang Javanese ini.
“YA POKOKNYA!!! INI PAKSAAN!!!”, demikian jawabku dengan huruf besar semua dan tiga tanda seru (!!!) di setiap kalimat tak mau kalah.
“Iye deh bang, gue ngikut aje. Daripade loe ngoceh ampe pagee…”
“Nah, gito loe…Hehehe ^_^”
“Truz, gimane carane bang?”
“Caranya gampang kok, nyantai aja.”
“Ape tu?”
“Pakailah Linux!!!”
“???@#$%&^*(@!(“
Ya, karena Linux lebih dari sekedar windows. Itu kalau kau minta pendapatku. Kalau tidak ya tidak (“Halah-halah, niat kasih solusi gak sich nich orang”-oposan) (“Diam tolol!!! Kalimatku lum selese… - pen) (“Huh, penyalahgunaan tanda baca apa ini???” -comenterbahasa) (“Hia…maap deh, , , Loh kamu ndiri ikutan?”-pen) (“Hehehe…ga papa, kayana asyik”-comenterbahasa) (“Huuuu…”-pen) (perhatian ini paragraf gagal -red).
Yaahhh… pada intinya ada berbagai cara tentu saja, tergantung dari bidang anda. Yang dibutuhkan tentu saja adalah sikap anda: bagaimana anda menyadari kebodohan anda, bagaimana anda mau melakukan sesuatu untuk saat ini, dan mewujudkan sesuatu yang berguna untuk masa depan. Silakan pikirkan sendiri cara yang mau kautempuh, karena aku hanya punya sesuatu yang kusebutkan tadi: “Pakailah Linux”, dan ini hanya relevan untuk para pengguna windows yang manja dan menerima begitu saja pintu kebodohan yang mengerikan.
Aku sendiri bodoh, karena masih saja setengah komputerku windows. Dan aku dipaksa mempelajari software-software design under windows di jurusanku. Tapi Linux semakin menguasai hidupku. Aku akan melakukan apa yang aku bisa untuk membuatnya semakin berkuasa. Itu tidak apa-apa, karena dia selalu membagikan kekuasaannya dengan jumlah yang sama kepada orang yang dikuasainya – “… just because Linux is shareable”
Itu saja yang kutulis saat ini, di rumah kami yang hijau, yang ditemani hijaunya sawah dan pohon disekitar.
Salam,
Daftar Sumber:
http://en.wikipedia.org/wiki/Socrates
http://en.wikipedia.org/wiki/Plato
http://en.wikipedia.org/wiki/Aristotle
http://sackullawastu.wordpress.com/karyatulisku