Seaneh Sackullawastu

October 11, 2009

Yang Bukan Kebodohan adalah Membangun Sistem Komputasi Aman Tanpa Gangguan Windows

Filed under: Heart to Heart — Tags: , — sackullawastu @ 9:04 am

“Dan semua itu adalah kebodohan…”

Di masa lalu aku berurusan dengan virus. Virus-virus asing dengan mudah terdeteksi antivirus bagus yang up to date – sayangnya waktu itu antivirus kami tak pernah up tu date. Dan virus lokal yang bodoh dengan mudah diatasi secara manual, dengan mematikan sumber daya virus tersebut dan membersihkan bangkai-bangkainya yang kelihatan jelas.

Suatu ketika kebodohan itu kutulis, dan aku mendapatkan 3 buku tebal plus uang 200 ribu dari beritanet.com feat Andi Offset. Kali lain aku menulis risalah yang lebih panjang di blog ini, sesuatu yang berbunyi “Membuat Sistem Komputasi yang Aman dari Virus tanpa Gangguan Antivirus”. Kalau beruntung mungkin kamu akan menemukan kopinya di blog orang lain juga. Sekarang adalah zaman dimana originalitas dipertanyakan. Sadari itu. Kalau ingin bertahan kamu harus terus menghidupkan sumber energi yang tak pernah kering. Dan selalu baru.

Dan sekarang aku menyadari, bahwa semua itu adalah kebodohan… Tapi aku membiarkan kebodohan-kebodohan tetap di tempatnya; juga berlipat gandanya kebodohan itu. Toh kebodohan adalah bagian dari hidupku. Bagian dari hidupmu juga kalau kau mau mengaku. Dan bangsa kita. Tak perlu banyak berpikir keras tentang pernyataanku itu karena sudah jelas.

Untungnya kesadaran akan adanya kebodohan dalam diri kita adalah syarat untuk menjadi lebih baik. Menjadi lebih bijaksana. Bayangkan Socrates (469 BC–399 BC) tidak pernah menyadari bahwa dirinya bodoh. Dia tidak akan bertanya kepada setiap orang yang ditemuinya di setiap tikungan jalan di Athena. Alkisah di akhir cerita, kata-katanya menguatkan kesadarannya semula, “Orang yang paling bijaksana adalah orang yang tahu bahwa dirinya tidak tahu”.

Karena tingkahnya itu, Socrates memang meminum racun cemara di tribun Athena, berdasarkan keputusan forum pengadilan Athena tentu saja. Tapi jauh sebelumnya dia telah mengobarkan api kegilaan akan ‘pengetahuan’ – atau lebih tepatnya ketidakbodohan.

Dan kobaran api kegilaan itu disimpan dan didokumentasikan oleh Plato (428/427 BC – 348/347 BC), muridnya yang setia. Plato pun membangun akademi Plato. Banyak anak muda yang tertarik rupanya. Aristoteles (384 BC – 322 BC) salah satunya. Socrates mempertanyakan hal-hal mendasar yang abstrak – kendati sesuatu yang abstrak itu tersimpan dalam kehidupan sehari-hari, Plato justru memaksa kita untuk selalu melihat bahwa ada sesuatu yang abstrak di dalam segala sesuatu yang real disekitar kita, tetapi Aristoteles, murid pembangkang tapi sangar (baca: awesome - pen), melihat hal-hal kecil di alam sekitar.

Itulah kisah ketiga orang besar yang menjadi dasar kebudayaan intelektual di dunia barat, yang kini telah mengglobal sampai ke pelosok bumi. Sungguh ini bukan interferensi kebudayaan, karena aku sendiri lahir dalam budaya Timur: Jawa – Jogja bagian Selatan, yang ketimurannya sangat kental. Tapi aku mau menyadari apa yang sedang terjadi di zaman ini. Ini jelas jauh lebih baik. Jika tidak kau akan tertelan zaman ini tanpa tahu apa yang terjadi. Punyamu sendiri lenyap, kepunyaan orang yang datang padamu tak bisa kau kuasai. Sungguh menyedihkan.

Satu hal yang menjadi sebab sekaligus pertanda pengglobalan kebudayaan Barat yang semakin ‘menggila’ adalah bangkitnya teknologi komputasi dan meluasnya jaringan internet. Kata-kata ‘menggila’ sengaja kuberi tanda kutip karena kata-kataku itu salah jika ‘menggila’ kau hilangkan. Pengglobalan kebudayaan Barat telah terjadi sejak zaman dahulu kala, ketika bangsa-bangsa Barat menyebarkan kekuasaannya.

Orang-orang Indonesia yang picik akan begitu saja membenci ‘para penjajah’ itu, tapi itu wajar saja karena gagasan ini tertanam dalam-dalam buku teks sejarah pada umumnya. Dan SMP-ku tidak, guru sejarahku yang hebat mendidik kami untuk melihat kedua sisi baik dan buruk, jika ingin belajar dari masa lalu.

Sekali lagi penekanan dariku, aku sama sekali tidak ingin melunturkan semangat nasionalisme kalian. Aku sendiri sangat cinta akan bangsaku, walau keadaan sesuram apapun. Tapi cinta bukanlah kebencian. Cinta tidak juga berarti memuja-muja dengan penuh kata-kata manis. Pada bagian kecilnya, Cinta bisa berarti menyadari segala sesuatu apa adanya seburuk apapun itu, menanggung apa yang sedang terjadi, dan siap melakukan yang terbaik untuk masa depan.

Kembali ke masalah yang kuangkat, bahwa IT sangat vital dalam proses pengglobalan dunia ini, aku yakin Anda telah terlibat dalam masalah ini. Masalah lagi, masalah lagi. Masalahkah ini???!! YA. Tentu saja ini masalah. Anda bertanggungjawab untuk menyelamatkan bangsa kita dari kesuraman yang ada.

“Loh, knape gue yang disalahkan, bang? Gue kan cuma iseng2 browsing, e nemu artikel cupu. Melaz kan kalo gak pernah diliatin”, demikian mungkin protes seseorang dg dialek Jakarte yang diketik secara cupu oleh seorang Javanese ini.

“YA POKOKNYA!!! INI PAKSAAN!!!”, demikian jawabku dengan huruf besar semua dan tiga tanda seru (!!!) di setiap kalimat tak mau kalah.

“Iye deh bang, gue ngikut aje. Daripade loe ngoceh ampe pagee…”

“Nah, gito loe…Hehehe ^_^”

“Truz, gimane carane bang?”

“Caranya gampang kok, nyantai aja.”

“Ape tu?”

“Pakailah Linux!!!”

“???@#$%&^*(@!(“

Ya, karena Linux lebih dari sekedar windows. Itu kalau kau minta pendapatku. Kalau tidak ya tidak (“Halah-halah, niat kasih solusi gak sich nich orang”-oposan) (“Diam tolol!!! Kalimatku lum selese… - pen) (“Huh, penyalahgunaan tanda baca apa ini???” -comenterbahasa) (“Hia…maap deh, , , Loh kamu ndiri ikutan?”-pen) (“Hehehe…ga papa, kayana asyik”-comenterbahasa) (“Huuuu…”-pen) (perhatian ini paragraf gagal -red).

Yaahhh… pada intinya ada berbagai cara tentu saja, tergantung dari bidang anda. Yang dibutuhkan tentu saja adalah sikap anda: bagaimana anda menyadari kebodohan anda, bagaimana anda mau melakukan sesuatu untuk saat ini, dan mewujudkan sesuatu yang berguna untuk masa depan. Silakan pikirkan sendiri cara yang mau kautempuh, karena aku hanya punya sesuatu yang kusebutkan tadi: “Pakailah Linux”, dan ini hanya relevan untuk para pengguna windows yang manja dan menerima begitu saja pintu kebodohan yang mengerikan.

Aku sendiri bodoh, karena masih saja setengah komputerku windows. Dan aku dipaksa mempelajari software-software design under windows di jurusanku. Tapi Linux semakin menguasai hidupku. Aku akan melakukan apa yang aku bisa untuk membuatnya semakin berkuasa. Itu tidak apa-apa, karena dia selalu membagikan kekuasaannya dengan jumlah yang sama kepada orang yang dikuasainya – “… just because Linux is shareable”

Itu saja yang kutulis saat ini, di rumah kami yang hijau, yang ditemani hijaunya sawah dan pohon disekitar.

Salam,

Daftar Sumber:

http://en.wikipedia.org/wiki/Socrates
http://en.wikipedia.org/wiki/Plato
http://en.wikipedia.org/wiki/Aristotle
http://sackullawastu.wordpress.com/karyatulisku

October 9, 2009

Bangkitnya Drivel Seusai Sukses Konek Internet Pake Modem Smart Haier C700 di Desktop Linux…

Filed under: Linux — sackullawastu @ 12:40 am

” Di luar dugaan Drivel menerima baris-baris kata yang kuketikkan pada kotak-kotak kosong yang meminta nama pengguna, kunci, serta alamat rumah pelayannya…”

Hujan pertama malam ini membawa kesegaran yang jarang kurasakan. Harum bau tanah basah selalu mengingatkan aku akan suasana damai tak terkira menjelang Natal, di masa kecilku. Walau tak ada bunga bakung di seberang jendela yang basah terkena tetes-tetes air hujan pertama tentu saja. Tidak hanya gempa jogja yang menelan indahnya pemandangan kala itu, tapi juga memoriku. Untunglah, karena selalu memberi warna baru dikala hujan pertama tiba.

Dimana segala macam data berisi apa-apa seperti turotial koneksi internet dan sebagainya? Demikian mungkin pikir anda. Kecewakah? Karena yang ada malah ocehan tak berguna tentang hujan pertama yang mempesona. Tapi aku tetap akan bercerita. Karena cerita lebih kaya daripada bukan cerita.

“Benarrrkahhh?”, semut yang dengan enaknya merayap di layar monitorku mungkin bertanya.
“Diam kau, itu kata yang pas karena berakiran a.”
“Hm…ck ck ck…”, kata-kata sang semut menghilang mengiringi penampakannya yang tertelan hitamnya frame monitorku.

Untungnya Aku telah menyiapkan halaman rumah lain di Sarang Laba-Laba milik dunia yang luas ini. Judulnya ‘Zaman dimana Manusia Saling Berbagi Teknologi “. Salah satu halamannya menceritakan secara lebih ilmiah apa yang termuat pada judul blog ini. Arahkan tikusmu di sini dan tekan tombolnya yang kiri, maka akan kautemukan bagaimana menghubungkan modem Haier C700 ke internet di Linux. Aku pakai Debian, kupikir tidak masalah jika diterapkan di distro Linux yang lain. Coba saja. Mencoba lebih baik daripada tidak mencoba.

Lalu apa yang kira-kira kaudapatkan di halaman yang kutuliskan di malam sunyi ini? Tentu tidak ada. Kecuali link yang kubicarakan itu. Itu saja yang paling penting.

Tapi kau salah kalau beranggapan demikian. Aku juga salah karena dalam paragraf sebelumnya mengatakan kalau aku beranggapan demikian. Akan kuceritakan ada apa di balik tulisan biasa ini. Tulisan ini dikirim lewat Drivel Journal Editor, aplikasi klien blog di Desktop Debianku. Linux. Sistem Operasi yang hebat. Membangun karakter penggunanya. Sama sekali tidak membuatmu manja. Itu saja ceritanya. Cerita selesai.

Demi menjawab keingintahuanmu akan kuceritakan apa itu Drivel. Seperti yang telah terkandung dalam paragraf sebelumnya, Drivel adalah semacam klien blog. Inilah hebatnya Linux. Dia mendukung berbagai rupa aplikasi yang dikembangkan berbagai rupa manusia. Semua itu bebas kau miliki. Salah satunya Drivel di desktopku.

Cerita ini melanjutkan cerita sebelumnya tentang gnome-blog. Mengerikan sekali mengetahui judul blog yang lenyap di halaman blogmu. Itu karena aku kirim tulisanku lewat gnome-blog. Aku tak tahu apakah para pengembang gnome-blog telah memperbaiki kekeliruan itu. Yang jelas karena masalah itu aku mencoba aplikasi-aplikasi klien blog lain. Salah satunya Drivel Journal Editor ini. Secara defaultnya, drivel ini berawal dari klien untuk blog di http://livejournal.com. Tapi ternyata beberapa server blog lain pun kini telah didukungnya. Diantaranya blogger, avogadro, wordpress, dan sebagainya.

Singkat cerita malam ini aku menemukan ramuan kata kunci yang cocok, yang membuat Drivel memiliki hak untuk masuk ke halaman rumahku di wordpress. Kemarin dan kemarin lusa belum. Ramuan inilah yang akan kubagikan untukmu, siapa tahu berguna bagi kesejahteraan nusa dan bangsa. Ini dia ramuannya:

  1. ‘Journal Type’ pilih movable type.
  2. ‘Server Adress’ isikan:
  3. http://namahostmutanpawww.wordpress.com/xmlrpc.php

  4. Ketik username dan password dengan benar.

Itu saja ramuannya. Tiada yang lain lagi.

Untuk selanjutnya, bisa saja aku menambahkan segala macam ocehan tak berguna. Tapi cukuplah ini untuk malam setelah hujan pertama. Hiruplah nafas sedalam kau bisa, dan rasakan betapa segarnya harum hujan pertama.
Di malam hujan pertama,

Silas Sackullawastu

September 17, 2009

Beralih ke Koneksi Internet Smart Make Haier C700

Filed under: IT — Tags: , , , — sackullawastu @ 7:03 pm

Kendati posting blog lewat client relatif murah – terutama untuk servis provider yang memasang tarif murah per kb – ternyata im3 terlalu suram bagiku. Entah sejak kapan tarifnya gak lagi Rp 1 /kb. HP motorola tua yang lama tak berguna pun turun tahta, dan kupakai nomer Axis asyik yang cukup menjanjikan.

Di tengah pergumulan yang ketat antara memilih servis provider yang tepat, mencari blog client yang bersahabat, serta tersendat-sendat berenang-renang dalam koneksi AXIS-motorola c380 yang terbatas ditambah daya tahan baterai hape motorola tua yang begitu mengenaskan, akhirnya secercah harapan besar muncul, dengan terpananya diriku akan dompetku yang berisi duit 400rb (lebih sedikit) menjelang liburan ini. Nampaknya ini buah dari pengeluaranku yang relatif hemat. Tabunganku di BRI pun ada karena usahaku itu, yang cukup menghambat jiwa muda yang ingin bersenang-senang. Beruntung juga, bulan ini simbah kakung n putri yang baik memberi tambahan uang saku.

Kata-kata “menjelang liburan” patut diperhatikan. Aku anak kos. Uang sakukuku adalah biaya hidupku. Dan biaya hidup ini akan menurun drastis ketika pulang liburan, dimana biaya makan ditanggung orang tuaku. Untuk itulah ada beberapa pilihan untuk mengeksekusi duit 400rb ini.

Menyimpannya sebagian di bank dan mengambilnya lain kali pas ada pameran komputer n beli vga card yg oke nampaknya pilihan yang bijak, mengingat harga perangkat komputer semakin lama semakin murah. Selain itu beban penghematan pun cukup ringan dan bisa sedikit bersenang-senang. Lain halnya jika aku memilih untuk membelanjakannya sekarang, dengan saldo bank kujadikan backup biaya hidupku. Pilihan adalah beli hape cdma yang bisa buat modem atau wireless usb dan bereksperimen mencari sinyal nyasar, atau pake wajan bolic sekalian biar mantap.

Alih-alih nyari hape tua cdma n dialup pake smart yang katanya murah, aku memutuskan untuk membeli hape punya smart, haier C700. Selain unlimited 90 hari, tersedia slot micro SD, uji coba koneksi modem baru di Linux dalam kondisi sedikit informasi di internet nampaknya menarik juga. Kuputuskan niatku ini selepas mampirnya aku ke counter hape yang sungguh tidak meyakinkan, dan melihat haier c700 dengan harga yang lebih mahal dari iklannya, 450 ribu.

Di dealer smart langsung pasti lebih murah. Selasa, 15 September 2009 pukul 17.00, pulang kuliah + mampir kos + leyeh-leyeh, aku melarikan motorku ke dealer smart, sekitar 500 m dari kosku di Gonilan Kartasura. Rabu, 16 September 2009 pukul 14.30 sepulang kuliah tanpa basa-basi aku kesana lagi. Ternyata habis, katanya stok baru datang esok paginya. Oke deh, otomatis hari ini aku baru bisa ke sana lagi. Kebetulan uang saku di dompet mendekati pas 400rb, cuma kelebihan beberapa lembar ribuan lecek + recehan, maka aku ngantri sejenak di BRI colomadu ambil tabungan, buat biaya makan+bensin 3 hari terakhir sebelum liburan.

Di luar perkiraan, ternyata KTP ku sudah nggak berlaku. Dengan tidak berlakunya KTPku, aku tidak bisa menggunakan fasilitas BRI online dan harus mengurusnya dulu di BRI asal. Aku memang tidak membuat rekening ATM. Selain akan menguras saldo tabungan yang sedikit, ATM pasti memberiku akses yang begitu mudah untuk mengambil uang – dan niatku tabungan ini tidak akan begitu mudah kuambil. Ya sudah, Rp 399.000,00 tersikat habis uang saku di dompetku.

Akal sehat mulai bekerja. Walaupun pinjam duit dari Sony, teman kosku adalah pilihan yang oke, aku tidak membiarkan diriku bermanja-manja begitu saja. Kuambil kotak pandora berisi recehan yang selama ini terkumpul sedikit demi sedikit dari sisa-sisa uang kembalian. Duapuluh lima ribu berupa recehan dalam kantong plastik bening nampaknya cukup. Ditambah selembar Rp5.000,00 yang nyelip di saku jeans dan Rp 3000,00 yang terjepit di tas tidak ada alasan bagiku untuk bersedih hati. Hati nyaman tanpa banyak uang.
Demikian, halaman ini dipostkan lewat koneksi pake windowsku yg cupu. Harapanku, Desktop Debian Linuxku segera bisa konek pake hape baruku.

Sampai ketemu…
Silas Sackullawastu

September 16, 2009

Silas akan kembali hadir…

Filed under: Heart to Heart — Tags: , , — sackullawastu @ 8:59 pm

Setelah sekian lama tidak mengisi blog ini, saya akan kembali mengisi blog ini. Adapun koneksi ke internet dengan mudah dan nyaman merupakan kendala terbesar saya. Nulis blog di warnet sungguh tidak nikmat, dan koneksi dial up di komputer sendiri sangat lemot dan boros jika posting lewat web page wordpress begitu saja.

Adapun penggunaan blog client menjadi solusi yang oke bagi saya. Sistem operasi Linux yang menyediakan begitu tak terbatasnya ragam aplikasi menguntungkan saya. Adapun gnome-blog, drivel journal editor serta logjam sudah saya coba. Dan belum berhasil untuk posting ke wordpress. Memang isinya experimental dan banyak tampilan kurang memuaskan, tapi jika anda tertarik dengan blog-blog saya yang lain silakan klik di sini, blog yang berisi hal2 berkaitan dengan Linux atau di livejournal, blog berbahasa Inggris.

Demikian salam singkat saya, saya akan kembali dengan cerita baru.

Silas Sackullawastu

February 10, 2009

Perjalanan Membangun Sistem Komputasi yang Aman dari Virus tanpa Gangguan Antivirus

Filed under: IT — sackullawastu @ 5:48 pm

Perang tanpa akhir Developer Virus Vs Developer Antivirus

Dewasa ini, keberadaan virus komputer pastilah merupakan hal yang biasa dalam keseharian kita, mengingat kebanyakan komputer di sekitar kita menggunakan Sistem Operasi Windows yang rentan terhadap virus. Sebelumnya perkenankan saya memberikan definisi virus adalah program/aplikasi/serangkaian perintah yang dapat memperbanyak dirinya. Kebanyakan virus, bahkan hampir semua virus sangat merugikan kita, baik secara pasif membuat hardisk kita penuh sesak atau aktif merusak sistem dan dokumen kita. Bermacam-macam antivirus pun ditawarkan oleh banyak software developer, yang bisa didapatkan dengan biaya tertentu maupun tersedia secara gratis.

Mengikuti bertambahnya jenis dan varian virus dengan versi yang terus menerus diupdate, devoloper-developer antivirus tak kalah semangat dengan para developer virus, dengan menerbitkan patch tambahan informasi virus baru atau sistem yang lebih baru dari antivirus lama mereka yang telah dikalahkan oleh virus versi lebih baru. Demikianlah terjadi perang tanpa henti antara developer virus dan developer antivirus, tanpa mengabaikan kemungkinan dalam kasus tertentu bahwa mereka adalah orang/pihak yang sama dengan tujuan tertentu. (‘tertentu’ dibaca ‘uang’.hehehe.-pen)

Di tengah peperangan bodoh antara developer Virus Vs developer Antivirus ini – yang mungkin juga ada drama peperangan melawan diri sendiri yang menghasilkan uang – memang tidak ada salahnya jika anda ikut berpartisipasi dalam peperangan ini. Cara paling mudah tentu dengan menjadi supporter developer antivirus dengan menggunakan produk mereka. Hal ini jelas merupakan hal yang sangat lazim, karena siapa toh yang tidak ingin komputernya dibersihkan dari virus?

Adapun cara yang lebih menantang untuk terjun ke dalam peperangan yang semakin suram ini adalah (more…)

February 7, 2009

Who Am I? Of Course I’m not Spiderman … Sebuah Perkenalan

Filed under: Heart to Heart — sackullawastu @ 2:12 pm

Apa salahnya punya nama Silas Sackullawastu. Nama ini memang aneh untuk orang Jawa, tetapi tidak dalam keluargaku. Mengapa? Bukan hanya karena hal aneh ini telah melekat kuat di tengah kami ternyata, tetapi karena keanehan adalah hal biasa bagi keluarga aneh. Bapakku yang kini telah berkepala 5 selalu berkata, nama hanyalah semacam penanda bahwa orang yang memiliki nama itu adalah aku.

Walau begitu sebagai seorang pembelajar yang penuh rasa ingin tahu, pertanyaan mengenai asal muasal suatu istilah tentu tidak terlewatkan begitu saja, apalagi namanya sendiri. Suatu ketika kubuka buku tua kakeku berjudul “Ensiklopedia Orang Kudus” dan kutemukan Silas, salah seorang perintis Gereja yang hidup di abad pertama. Dan mengacu pada Silas yang itulah namaku berasal.  Sekedar info, Umat Gereja Katolik mempunyai nama babtis yang diambil dari nama orang-orang di masa lalu yang dinyatakan kudus atau santo/santa. Memang pengambilan nama rasul-rasul awal perintis Gereja yang data-data tentangnya hanya dari kitab Suci dan tradisi tidak begitu populer di kalangan Gereja Katolik kecuali nama-nama tertentu seperti Maria, Petrus, Paulus, dan rasul-rasul terkenal lainnya. Sebabnya jelas, karena budaya membaca kitab suci secara pribadi di kalangan gereja katolik tidak sekuat gereja-gereja kristen reformasi. Sejarang-jarangnya bapakku membaca kitab suci, toh nama anak-anaknya selalu diambil dari kitab suci, Wasti untuk kakakku Clara Wastiunamsih, Silas untukku, dan adikku yang terakhir malah punya dua, Prisca dan Rut dalam Prisca Rutwasih.

Lebih lanjut mengenai penelusuran nama, dari buku tua itu kuketahui bahwa Silas  adalah nama Yunani, yang artinya ‘yang dipanggil Tuhan’. Boleh juga menggabungkan arti nama ini dengan namaku. Untuk itu, marilah kita menggali lebih dalam kata Sackullawastu yang membutuhkan penjelasan yang lebih rumit. Secara historis nama ‘Sackullawastu’ kudapatkan dari petugas catatan sipil yang keliru mengetikkan ‘Saekullawastu’ menjadi Sackullawastu. Bapakku pun tak perlu repot-repot mempermasalahkannya, toh baginya nama hanyalah penanda. Maka, untuk penelusuran secara etimologis sebaiknya kita ambil saja nama yang sebenarnya dimaksud sang bapak untuk diberikan kepadaku, Saekullawastu. “Saekulla” dari “Saekullawastu” diambil dari bahasa Latin ‘saecula’ yang berarti zaman, abad, atau generasi. Karena menurut bahasa Jawa kuno wastu berarti ‘benar’ atau ‘sejati’ disamping bisa berarti juga ‘perwujudan’, Silas Sackullawastu berarti ‘yang dipanggil Tuhan untuk mewujudkan generasi yang benar’, setelah melewati berbagai variasi penurunan kata.

Kendati demikian pendekatan yang kugunakan untuk menganalisis nama sangat melenceng dari maksud asli dan latar belakang penamaannya, karena bapakku tidak menggunakan pendekatan etimologis, filosofis, atau futuristis, melainkan secara informatif-matematis. Secara informatif, ‘Silas’ ditemukan secara acak-subjektif dari Kitab Suci, yaitu dari Kisah Para Rasul bab 16 dan seterusnya, sedangkan ‘saecula’ diambil dari buku misa tua berbahasa Latin dalam kalimat terakhir shadat singkat “ … in saecula saeculorum. Amen” (…di sepanjang masa. Amin). Kata terakhir ‘wastu’ merupakan deferensial (= turunan) dari nama kakakku ‘wasti’ dari ‘Wastiunamsih’. Mengabaikan perubahan bentuk ‘saekulla’ menjadi ‘sackulla’ di kantor catatan sipil dan penggantian huruf ‘c’ menjadi ‘k’ yang mungkin supaya bisa diucapkan orang Jawa, penambahan huruf ‘l’ pun bukan tanpa sengaja karena huruf ini ditambahkan supaya jumlah huruf namaku lebih banyak dengan jumlah huruf nama kakakku. Maka lahirlah cerita tentang nama yang diperoleh dari pendekatan informative-matematis, meninggalkan pendekatan filosofis-futuritis yang dianggap etis.

Demikianlah nama ini menyimpan prinsip seorang bapak dalam keluaga yang anehku, bahwa dia tidak berharap apa-apa dariku, karena bukan hak orang tua untuk berharap pada anaknya. Namun aku melihat sesuatu di balik nama Silas Sackullawastu yang diperoleh dari pendekatan informatif-matematis dan menghasilkan kata-kata mistis bin eksotis ini. Baik secara etimologis, sintaksis, historis, maupun analitis, nama ini mendobrak segala aturan berbahasa dan kelaziman budaya. Sungguh modal yang sempurna untuk mewujudkan sosok seorang radikal yang siap mengobarkan api revolusi bagi generasi sezamannya untuk masa depan generasi-genarasi selanjutnya.

Di balik nama (more…)

Theme: Banana Smoothie. Blog at WordPress.com.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.