Seaneh Sackullawastu

February 7, 2009

Who Am I? Of Course I’m not Spiderman … Sebuah Perkenalan

Filed under: Heart to Heart — sackullawastu @ 2:12 pm

Apa salahnya punya nama Silas Sackullawastu. Nama ini memang aneh untuk orang Jawa, tetapi tidak dalam keluargaku. Mengapa? Bukan hanya karena hal aneh ini telah melekat kuat di tengah kami ternyata, tetapi karena keanehan adalah hal biasa bagi keluarga aneh. Bapakku yang kini telah berkepala 5 selalu berkata, nama hanyalah semacam penanda bahwa orang yang memiliki nama itu adalah aku.

Walau begitu sebagai seorang pembelajar yang penuh rasa ingin tahu, pertanyaan mengenai asal muasal suatu istilah tentu tidak terlewatkan begitu saja, apalagi namanya sendiri. Suatu ketika kubuka buku tua kakeku berjudul “Ensiklopedia Orang Kudus” dan kutemukan Silas, salah seorang perintis Gereja yang hidup di abad pertama. Dan mengacu pada Silas yang itulah namaku berasal.  Sekedar info, Umat Gereja Katolik mempunyai nama babtis yang diambil dari nama orang-orang di masa lalu yang dinyatakan kudus atau santo/santa. Memang pengambilan nama rasul-rasul awal perintis Gereja yang data-data tentangnya hanya dari kitab Suci dan tradisi tidak begitu populer di kalangan Gereja Katolik kecuali nama-nama tertentu seperti Maria, Petrus, Paulus, dan rasul-rasul terkenal lainnya. Sebabnya jelas, karena budaya membaca kitab suci secara pribadi di kalangan gereja katolik tidak sekuat gereja-gereja kristen reformasi. Sejarang-jarangnya bapakku membaca kitab suci, toh nama anak-anaknya selalu diambil dari kitab suci, Wasti untuk kakakku Clara Wastiunamsih, Silas untukku, dan adikku yang terakhir malah punya dua, Prisca dan Rut dalam Prisca Rutwasih.

Lebih lanjut mengenai penelusuran nama, dari buku tua itu kuketahui bahwa Silas  adalah nama Yunani, yang artinya ‘yang dipanggil Tuhan’. Boleh juga menggabungkan arti nama ini dengan namaku. Untuk itu, marilah kita menggali lebih dalam kata Sackullawastu yang membutuhkan penjelasan yang lebih rumit. Secara historis nama ‘Sackullawastu’ kudapatkan dari petugas catatan sipil yang keliru mengetikkan ‘Saekullawastu’ menjadi Sackullawastu. Bapakku pun tak perlu repot-repot mempermasalahkannya, toh baginya nama hanyalah penanda. Maka, untuk penelusuran secara etimologis sebaiknya kita ambil saja nama yang sebenarnya dimaksud sang bapak untuk diberikan kepadaku, Saekullawastu. “Saekulla” dari “Saekullawastu” diambil dari bahasa Latin ‘saecula’ yang berarti zaman, abad, atau generasi. Karena menurut bahasa Jawa kuno wastu berarti ‘benar’ atau ‘sejati’ disamping bisa berarti juga ‘perwujudan’, Silas Sackullawastu berarti ‘yang dipanggil Tuhan untuk mewujudkan generasi yang benar’, setelah melewati berbagai variasi penurunan kata.

Kendati demikian pendekatan yang kugunakan untuk menganalisis nama sangat melenceng dari maksud asli dan latar belakang penamaannya, karena bapakku tidak menggunakan pendekatan etimologis, filosofis, atau futuristis, melainkan secara informatif-matematis. Secara informatif, ‘Silas’ ditemukan secara acak-subjektif dari Kitab Suci, yaitu dari Kisah Para Rasul bab 16 dan seterusnya, sedangkan ‘saecula’ diambil dari buku misa tua berbahasa Latin dalam kalimat terakhir shadat singkat “ … in saecula saeculorum. Amen” (…di sepanjang masa. Amin). Kata terakhir ‘wastu’ merupakan deferensial (= turunan) dari nama kakakku ‘wasti’ dari ‘Wastiunamsih’. Mengabaikan perubahan bentuk ‘saekulla’ menjadi ‘sackulla’ di kantor catatan sipil dan penggantian huruf ‘c’ menjadi ‘k’ yang mungkin supaya bisa diucapkan orang Jawa, penambahan huruf ‘l’ pun bukan tanpa sengaja karena huruf ini ditambahkan supaya jumlah huruf namaku lebih banyak dengan jumlah huruf nama kakakku. Maka lahirlah cerita tentang nama yang diperoleh dari pendekatan informative-matematis, meninggalkan pendekatan filosofis-futuritis yang dianggap etis.

Demikianlah nama ini menyimpan prinsip seorang bapak dalam keluaga yang anehku, bahwa dia tidak berharap apa-apa dariku, karena bukan hak orang tua untuk berharap pada anaknya. Namun aku melihat sesuatu di balik nama Silas Sackullawastu yang diperoleh dari pendekatan informatif-matematis dan menghasilkan kata-kata mistis bin eksotis ini. Baik secara etimologis, sintaksis, historis, maupun analitis, nama ini mendobrak segala aturan berbahasa dan kelaziman budaya. Sungguh modal yang sempurna untuk mewujudkan sosok seorang radikal yang siap mengobarkan api revolusi bagi generasi sezamannya untuk masa depan generasi-genarasi selanjutnya.

Di balik nama yang menyimpan misteri rumit – yang tingkat kerumitannya melebihi kerumitan simpang siur kode-kode biner yang sekarang sedang digunakan sebagai bahasa sehari-hari oleh device-device dalam komputer yang sedang kupakai ini – aku adalah seorang laki-laki sederhana, menghindari istilah polos bin lugu alias culun atau ndeso, pura-puranya. Meskipun aku terlahir di gedung bertingkat, kamar mewah, selimut hangat dan kasur empuk RS Panti Rapih Yogyakarta, masa kecil hidupku kuhabiskan di Bebekan, sebuah dusun yang tidak terlalu terpencil namun pelosok topologinya. Empat belas tahun di sana kulalui dengan penuh warna, baik suka maupun duka, yang sangat berperan memberikan background yang membentukku menjadi orang yang seperti sekarang ini.

Empat belas tahun yang memang bukan waktu yang pendek tetapi begitu cepatnya berlalu, hingga aku melangkahkan kakiku ke Seminari Menengah Mertoyudan untuk mencari jawaban atas apa yang mengusik hatiku. Bukan tujuan menjadi imam semata-mata tujuanku, tetapi aku mengikuti dorongan hati yang mencari apa arti hidup ini. Demikianlah setelah tiga tahun aku mengolah hidupku, aku semakin menemukan jawab atas langkah hidupku. Yang terpenting bukan jalan mana yang tepat bagiku, tetapi bagaimana aku mendengar bisikan dari ceruk hatiku yang paling dalam. Dari sana, apa yang menjadi pilihanku itulah hidupku, karena nasib adalah pilihanku, selama masih ada pilihan bagiku. Terjemahan Latinnya yang keren, Sors est election mea, dum supersunt elections mihi.

Lantas, apa yang kupilih untuk menjalankan misi hidupku di dunia ini? Meskipun hampir mustahil semustahil Naruto menjadi Hokage dan nyaris hanya impian bodoh seorang pemuda biasa, aku menegaskan, “Mendirikan Pabrik IC, adalah impianku!” seperti Naruto yang mengatakan dengan mantab, ”Menjadi Hokage adalah cita-citaku!”. Impian ini berawal dari keprihatinanku akan Indonesia yang tidak maju, selalu saja menggantungkan Negara lain, karena tidak punya cukup teknologi untuk ini itu. Coba bayangkan, apa yang dilakukan pemerintah Negara kita karena tidak bisa menambang batu bara sendiri? Kita memberikan 98% keuntungan kepada Pt Freeport International dari hasil penambangan tembaga di Papua, hanya karena kita tidak punya cukup teknologi. Kekonyolan ini masih ditambah dengan penipuan besar-besaran yang tidak kita sadari: semua barang elektronik sangat sedikit atau hampir tidak ada yang berasal dari Negara kita, mulai dari HP, komputer, PDA, mainan anak-anak, sampai peniti yang harganya hanya ratusan rupiah.

Inilah mengapa aku memimpikan sebuah pabrik IC. Tidak hanya IC, melainkan juga aplikasi-aplikasi dari sirkuit terintegrasi yang diarahkan ke segala macam bidang, mulai dari deteksi bencana alam, proteksi terhadap teroris, peralatan industri bagi perusahaan kecil, menengah atau rumah tangga, dan bidang-bidang lain yang membutuhkan perhatian. Mengingat sumber daya manusia sangat berperan di sini, mengapa tidak semua itu disertai juga dengan perbaikan dan pengembangan sumber daya manusia melalui suatu pusat penelitian dan pengembangan aplikasi dan riset ilmiah? Mungkin bisa juga semua itu diterapkan dalam kerangka edukasi yang bersifat ilmiah murni, yang eksploratif sekaligus aplikatif. Kurasa semua itu lebih berguna dari pelajaran sekolah yang terlalu abstrak dan sangat beresiko mematikan jiwa ilmiah yang dikobarkan Galileo dan perintis-perintis Science pada abad XVI-XVIII.

Silakan saja kalau kamu menganggap aku adalah seorang pemimpi, karena dilihat dari aspek dan pertimbangan apapun memang sudah jelas bahwa aku adalah seorang pemimpi. Hehehe. Walau begitu, dari mimpiku ini aku berharap kamu juga berani bermimpi, … memimpikan dunia yang lebih baik, di mata dan lubuk hatimu sendiri. Kendati mimpi berada di dunia yang berbeda dengan kenyataan, jiwa yang ada di dalamnya adalah sama. Maka mimpi itu akan menjadi kekuatan di dalam dirimu untuk mewujudkannya ke dalam dunia nyata.

Once you believe there’s a way, all the world will offer its powers to you…

Salam

Silas Sackullawastu

Nb. Tulisan ini merupakan suntingan ulang tulisan dalam rangka tugas mengarang di SMA tahun 2007.

Advertisement

2 Comments »

  1. Hi, this is a comment.
    To delete a comment, just log in, and view the posts’ comments, there you will have the option to edit or delete them.

    Comment by Mr WordPress — February 7, 2009 @ 2:12 pm

  2. genbate…

    Comment by clara — March 1, 2009 @ 12:00 am


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Theme: Banana Smoothie. Blog at WordPress.com.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.